Rasulullah Saw diriwayatkan pernah bersabda, “Orang beriman itu (juga) bersenda gurau dan bermain, sementara orang munafik itu suka mengerutkan kening dan marah” (Bihar al-Anwar 74 : 155 – Tuhaf al-‘Uqul hlm. 49)

Humor adalah suatu kualitas persepsi yang memungkinkan kita mengalami kegembiraan bahkan ketika kita sedang menghadapi suatu kemalangan atau kesusahan.

Menemukan humor dalam suatu situasi yang sulit dan tertawa dengan bebas bersama orang lain bisa menjadi penawar racun atas stres.

Selera humor kita memberi kita kemampuan untuk menemukan kesenangan, mengalami kegembiraan, dan juga untuk melepaskan ketegangan(tension). Humor bisa menjadi alat perawat diri (self-care) yang efektif.

Kata-kata humor sendiri merupakan kata-kata yang memiliki banyak makna. Akar kata “umor” mengandung arti cairan (liquid or fluid). Pada Abad Pertengahan, humor menunjuk kepada suatu energi yang berpikir untuk berhubungan dengan suatu cairan tubuh dan keadaan emosional. Energi ini telah dipercaya untuk menentukan kesehatan dan karakter (yaitu. “Dia sedang berada dalam sebuah humor yang buruk”).

Sebuah humor riang penuh harapan telah menggembirakan dan berhubungan dengan darah.

Suatu humor choleric adalah marah dan berhubungan dengan empedu.

Suatu humor phlegmatic adalah sikap dingin (apatis) atau sikap masa bodoh dan berhubungan dengan membran selaput lendir (mucous).

Suatu humor melancholic (sedih) telah menekan dan dihubungkan dengan empedu hitam.

Di dalam kamus modern, humor didefinisikan sebagai “suatu kualitas dari kemampuan tertawa atau menggelikan (comical) atau sebagai “suatu keadaan pikiran, sikap pandang, suasana hati, semangat”. Humor kemudian mengalir; melibatkan karakteristik dasar ekspresi individu, emosi, dan semangat.

Stres telah diperlihatkan untuk menciptakan perubahan fisiologis yang tidak sehat. Hubungan antara stres dengan tekanan darah tinggi, ketegangan otot, immuno-suppression, dan banyak lain perubahan yang telah dikenal selama bertahun-tahun. Riset modern menunjukkan bahwa tertawa menciptakan pengaruh sebaliknya. Humor muncul menjadi penawar racun yang sempurna untuk stres.

Studi menunjukkan bahwa pengalaman tertawa menurunkan tingkat-tingkat serum cortisol, meningkatkan sejumlah T lymphocytes yang diaktifkan, meningkatkan angka dan aktivitas sel pembunuh yang alami, serta meningkatkan jumlah T sel yang mempunyai suppresser.

Singkatnya, tertawa merangsang sistem kekebalan (the immune system), menetralisir immunosuppressive yang mempengaruhi stres.

Riset yang telah dilakukan pada sepuluh tahun terakhir membantu kita memahami hubungan-hubungan pikiran dengan tubuh (mind-body connections). Emosi-emosi dan suasana hati yang kita alami secara langsung mempengaruhi sistem kekebalan tubuh kita.

Suatu selera humor membiarkan kita untuk merasa dan menghargai ketidaklayakan hidup dan menyediakan saat-saat yang menyenangkan dan menggembirakan. Emosi-emosi positif ini dapat menciptakan perubahan-perubahan neuro-chemical yang akan menyangga immunosuppressive yang mempengaruhi stres.

Tertawa dapat menciptakan sebuah pelepasan emosi, suatu pembersihan emosi-emosi dan pelepasan ketegangan emosional. Tertawa, menangis, kemarahan, dan gemetar merupakan aktivitas-aktivitas pelampiasan yang dapat mengalirkan arus energi.

Di dalam bukunya Stress Without Distress, Selye memperjelas bahwa penafsiran stres seseorang tidak bergantung semata-mata pada suatu peristiwa eksternal, tetapi juga bergantung pada persepsi mereka atas suatu peristiwa dan makna yang mereka berikan;– bagaimana anda memperhatikan suatu situasi yang menentukan, jika Anda akan meresponnya sebagai ancaman atau tantangan.

Sebab orang yang berbeda juga merspon dengan cara yang berbeda untuk rangsangan lingkungan yang sama, sebagian orang tampak lebih baik dalam mengatasi stres daripada orang lain.

Suzanne Kobassa, seorang sosiolog telah mendefinisikan 3 “faktor daya tahan” yang dapat meningkatkan kelenturan seseorang terhadap stres dan mencegah ketegangan : komitmen, pengenndalian, dan tantangan.

Jika Anda mempunyai suatu komitmen yang kuat terhadap diri Anda dan pekerjaan Anda, maka Anda bisa meyakini bahwa Anda berada dalam kendali dari pilihan-pilihan dalam hidup Anda (pengendalian internal).

Dan jika Anda melihat suatu perubahan sebagai tantangan ketimbang sebagai ancaman; insya Allah Anda bisa lebih mengatasi stres untuk memeproleh kesuksesan.

Di dalam konteks ini, humor bisa menjadi suatu alat pengendalian. Humor memberi kita sebuah perspektif berbeda atas masalah-masalah yang kita hadapi dan, dengan suatu sikap pelepasan, kita merasakan suatu perlindungan diri dan pengendalian dalam lingkungan diri kita.

Persepsi humor melibatkan keseluruhan otak dan mengintegrasikan serta menyeimbangkan aktivitas kita di dalam belahan kedua-duanya (otak kiri dan otak kanan).

Derks telah menunjukkan bahwa ada suatu pola yang unik dari otak yang beraktivitas memancarkan gelombang persepsi humor. EEG’s telah merekam subjek-subjek tertentu ketika subjek-subjek itu hadir sebagai bahan-bahan yang lucu dan menggelikan.

Selama pengaturan canda, belahan otak bagian kiri memulai fungsi analitisnya terhadap proses pengaturan kata-kata. Segera setelah itu, kebanyakan dari aktivitas otak bergerak ke cuping depan yang mana merupakan pusat emosionalitas (center of emotionality).

Beberapa saat kemudian kemampuan sintesa belahan otak bagian kanan bergabung dengan pengolahan kiri untuk menemukan suatu pola — untuk “mendapatkan suatu lelucon atau canda”.

Beberapa 1/1000 (seperseribu) detik kemudian, sebelum si subjek memiliki cukup waktu untuk tertawa, aktivitas gelombang otak meningkat menyebar ke area proses sensor otak, area otak, dan cuping belakang kepala.

Fluktuasi-fluktuasi yang ditingkatkan di dalam gelombang delta mencapai suatu aktivitas yang lambat laun menjadi keras dan meluap sebagaimana otak memperoleh lelucon dan ekspresi eksternal ketika tawa mulai muncul.

Penemuan Derks menunjukkan bahwa humor menarik berbagai bagian-bagian otak secara bersama-sama ketimbang mengaktifkan suatu komponen di dalam satu area saja.

Menertawakan diri kita sendiri tidak selalu mudah (Seperti yang dilakukan Tukul dalam tayangan Empat Mata-nya). Sering kali seseorang terlalu hanyut dalam suatu masalah sehingga tak menemukan satu pun humor di dalamnya.

Hanya orang-orang yang memang memiliki bakat khusus yang dapat melihat sisi jenaka dari suatu situasi; yang dengannya ia dapat membantu untuk ketawa dan melepas kegembiraan.

Cobalah ciptakan gambaran-gambaran yang lucu dari masalah-masalah Anda, atau melebih-lebihkan situasi tersebut ke dalam hal-hal yang menggelikan, menertawakan perilaku aneh yang sebenarnya juga Anda miliki… Dengan begitu, insya Allah, stres dan ketegangan Anda akan terangkat dan hilang.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah