H Sujiwo Tejo *

Ryan jelas Ryan. Tapi Ryan-Ryan yang lain jelas bukan Ryan. Mereka bisa 50-an lebih manusia DPR kalau kelak terbukti korup. Mereka juga bisa dua manusia kabinet jika nanti terbukti menggarong duit negara.

Kenapa? Ini pun jelas. Korupsi kan hakikatnya, ya pembunuhan. Malah lebih kejam. Pendidikan kita aja yang salah kaprah. Pak guru cuma bilang fitnah lebih kejam dibandingkan pembunuhan. Enak aja. Korupsi juga lebih kejam dong. Kalau kecoa, pembunuh itu kecoa yang masih ada polos dan unggah-ungguhnyalah. Nah koruptor itu kecoa 24 karat.

Tapi
kan korupsi ndak bikin orang sampai mati? Alah, sekarang apa bedanya mati lalu dikubur atau dibakar atau diawetkan, dengan hidup- sih- masih-hidup, tapi sejatinya telah semati-matinya mati? Yaitu, kaum yang masih bernapas, namun sejatinya hidup ndak layak dan sudah jadi “almarhum” akibat korupsi penguasa.

Yaitu, orang-orang yang karena korupsi, maka hidupnya tidak seberuntung sapi-sapi di Eropa,yang negaranya ndak punya Pancasila, ndak punya UUD’45 untuk menjamin warganya hidup layak secara kemanusiaan, tapi para sapinya aja disubsidi 2 euro per hari, artinya Rp28.000-an. Jumlah mereka ada yang bilang 40 juta jiwa. Ada yang bilang sampai 60 juta jiwa. Bagi saya, mau berapa nominalnya, ndak penting.

Yang penting, jumlah manusia yang hari ini masih berlayar nyari ikan, bertani, berburuh di pabrik-pabrik di Nusantara, tapi sejatinya telah telak jadi “almarhum” stoknya jauh lebih banyak ketimbang mayat-mayat Ryan. Ya jelaslah, korban Ryan cuma segelintir karena orang sedaerah ama Gus Dur-Nurcholish Madjid-Emha Ainun Najib ini mungkin cuma bertindak sendirian. Tapi korupsi kan pasti berjamaah? Vokal grup? Bukan kayak penyanyi solo macam Bunga Cinta Lestari?

Ada yang bilang minimal 30% hasil korupsi itu untuk ongkos sumpal mulut saking banyaknya yang terlibat. Ya kan? Aduh, sekarang kumpulin pembunuh itu sampai 18.000 pembunuh deh…Kok 18.000? Ya saya suka angka itu karena Rp800 triliun duit di Singapura dimiliki oleh cuma 18.000 orang Indonesia… Kumpulin korban-korban Ryan, Rio Alex Bulo, Robert Gedek, Kusni Kasdut, dan lain-lain sampai 18.000 pembunuh.

Kalau angkanya perlu bantuan, imbuhi ama jumlah pembunuhan massal di Rwanda 1 juta jiwa. Seselin bonus 40.000 jiwa yang dibantai Westerling di Sulawesi. Kalau perlu, tambahi lagi komplemen 11 juta jiwa yang dibunuh oleh belahan jiwa Eva Braun (Hitler). Ndak bakal sampai 40-60 juta mayat, seperti jumlah “jenazah berjalan” Indonesia akibat korupsi.

***

Antasari jelas Antasari. Kalau ndak pakai kumis, itu pahlawan. Kalau pakai kumis, Antasari Azhar, itu jelas ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. Asli Sumatra. Cuma kebetulan ayahnya pengagum sang pahlawan dari Kalimantan itu. Tapi kumisnya mirip kumis harimau Sumatra, di samping untuk efek seni rupa di wajah, juga berfungsi sebagai detektor mengenali posisi keberadaan mangsa.

Waktu saya nguping obrolan Antasari Azhar dengan Peter Gontha, ternyata alasan kenapa dia bersemangat memangsa koruptor, menarik. Pak Kumis bilang agar rakyat bisa hidup. Maksudnya hidup secara layak. Bisa sekolah. Bisa makan kenyang, dan lain-lain. Waktu kami wawancara praktisi hukum Imam Santoso SH MH, dia juga bilang, dari segi hukum, sebenarnya korupsi jauh lebih berat ketimbang menghilangkan nyawa. Justru paling parah itu korupsi.

Korupsi mengganggu perekonomian negara, bukan cuma perseorangan. Berarti saya yang awam hukum ini enggak mengada-ada lho, membandingkan korupsi dan pembunuhan. Kalau ribuan sampeyan, bahkan jutaan sampeyan juga percaya korupsi lebih bajingan ketimbang pembunuhan, wah, kita bisa bikin partai. Partai Peyakin Korupsi Lebih Kejam daripada Pidana Pembunuhan.

Kita singkat Partai Ya Rubi Jampid Nuh. Dan untungnya, barang bukti polah korupsi jauh lebih gampang ditemukan, aparat ndak harus sampai main lubang-lubangan kayak di halaman rumah Ryan. Hanya, Hanuman yang bisa menyembunyikan puluhan mobil mewah ke awang-awang. Hanya setan tujuh penjuru yang mampu mengubur, menyembunyikan rumah-rumah dan apartemen mewah.

Paling yang susah kalau barang buktinya berupa perhiasan dan uang. Tapi kan kita bisa pakai jasa telepati Deddy Corbuzier. FBI juga pakai jasa telepati kok. Lihat saja film Next (2007) yang dibintangi Nicholas Cage dan Julianne Moore.

***

Berbudaya jelas berbudaya. Titik. Ndak pakai koma dari alfabet mana pun! Mengaku berbudaya, tapi menghargai temuan tempe, santan, dan sayur lodeh tidak sebesar menghargai temuan Menara Eiffel, jelas tidak berbudaya. Mengaku berbudaya, tapi mengapresiasi temuan kamisol dan tusuk konde tidak sebesar apresiasinya pada temuan “E= MC2″, jelas tidak berbudaya.

Begitu juga, mengaku berbudaya, tapi tak sanggup menafsir korupsi sama dengan pembunuhan, bahkan lebih kejam, jelas tidak berbudaya. Orang berbudaya bukan cuma miris dan ndak tega mendengar ahli forensik Mun’im Idris menceritakan kondisi koyak-moyaknya mayat korban Ryan dan Robert Gedek.

Orang berbudaya juga miris, ndak sampai hati, mual dan ndak bisa makan sampai hampir semingguan setelah menyimak dokter-dokter ahli nutrisi menceritakan korban-korban korupsi, yakni jutaan orang yang hidup sih hidup, tapi cuma mengonsumsi protein hewani paling banyak 4,19 gram per orang tiap hari, itu pun kalau kebetulan ada, karena menurut standar FAO minimal 6 gram per orang tiap hari. Dan karena kita orang berbudaya.

__________________
*
Budayawan(//mbs)

Sumber : news.okezone.com