RSS

Untukmu Pahlawanku

10 Nov

Hari ini tanggal 10 november, bertepatan dengan hari pahlawan aku merenung dan sedikit mengeluarkan air mata. Bukan karena apa-apa. Air mata itu keluar karena aku sedih akan Indonesia yang indah tapi kehilangan sosok teladan, sosok Negarawan. Keindahan Indonesia kini dikotori oleh manusia-manusia keparat, manusia-manusia jahat. Korupsi di mana-mana. Partai Politik disinyalir tak berperan apa-apa, karena hanya berbuat untuk meneruskan ’ke-enak-kan’ (ke) duduk (an) di kursi empuk jabatan tanpa kerja progresif untuk rakyat yang menderita. Untuk tukang ojek, untuk pengajar tanpa gaji yang maksimum, untuk orang-orang cerdas yang tak terurus.

Indonesia memang kehilangan manusia-manusia terbaiknya. Semua yang telah lama berjuang kini telah tiada dan tak bersama di sini lagi; di negeri Indonesia. Suatu ketika dalam kenangku, aku merenung “mengapa Indonesia kini seperti ini?” Apa yang sudah aku berikan untuk Indonesia? Apa yang sudah aku lakukan untuk Indonesia? Aku menangis dan nyaris tak tertahan. Airmataku keluar tanpa ragu. Aku teringat dengan perjuangan para tokoh bangsa yang memperjuangkan bangsa ini agar keluar dari penjajahan.

Oh Hatta,
Oh Natsir,
Oh Soekarno,
Oh Ahmad Dahlan,
Oh Hasyim Asyari,
Oh Diponegoro,
Oh Mahasiswa,
Oh Rakyat Indonesia

Kemanakah kalian pergi? Indonesia kini menderita lagi; dan nyaris sedikit yang berasa bertanggungjawab atas kondisi ini. Ke mana, ke manakah kalian pergi? Mengapa kalian pergi seakan tanpa izin? Mengapa kalian pergi? Sapaan Pahlawan memang lebih layak untuk kalian; tapi kini wahai Pahlawan, hanya sedikit yang melanjutkan peran-peran kalian.

Ya Allah, secara manusiawi aku tak tega mereka pergi tanpa penerusan sejarah. Mereka adalah anak terbaik umat dan bangsa ini. Tapi begitulah keikhlasan itu telah menghujam dalam hati-hati mereka. Aku sering berpikir dan suka bertanya : apakah peran anak-anak negeri–termasuk kami saat ini–adalah bagian dari penerusan sejarah masa lalu itu?

Ya Allah, tugas ini sangat berat. Indonesia memang Indonesia; tapi aku merasa bahwa apa yang dilakukan oleh kebanyakan anak negeri, termasuk kami saat ini belumlah seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan para pahlawan yang telah berkorban untuk negeri khatulistiwa ini.

Oh Natsir, ke manakah engkau pergi? Kini Indonesia menderita, sedih dan mengenaskan karena kehilangan tokoh Nasionalis berbasis nilai luhur keumatan dan kebangsaan. Oh Soekarno, ke manakah engkau kini? Indonesia kini kehilangan patriotisme. Patriotisme kini boleh jadi hanya seperti numpang keren. Perjuangan kini hanya ketika momentum pemilu. Nasionalisme kini hanya ada pada slogan bukan kerja nyata. Indonesia adalah Indonesia, ya itulah saat ini. Kebanggaan akan ke-Indonesia-an kini seperti bisu, tuli dan tak melihat kenyataan Indonesia. Para pemarkir politik hanya muncul ketika pajak-pajak parkir dinaikkan. Di manakah fungsi legislasinya DPR saat ini?Di manakah fungsi eksekusinya Pemerintah saat ini? Di manakah fungsi kontrolingnya rakyat, media masa dan mahasiswa saat ini?

Kebanyakan anak-anak Indonesia saat ini lupa dengan apa yang diperankan oleh pahlawan-pahlawan di masa lalu. Peringatan hari pahlawan zaman ini boleh jadi hanya ritual tanpa mengambil hikmah dan pesan sejarah yang menggemilang. Peringatan kini justru boleh jadi hanya tebar pesona agar disebut sebagai pahlawan. Peran-peran mengisi kemerdekaan dan proses penerusan peran kepahlawanan para pahlawan kini hanyalah aktivitas rutinan tanpa agenda, tanpa kebijakan dan orientasi. Adapun jika ada, itu hanya untuk sesuatu yang tak menyentuh kepentingan Indonesia, rakyat Indonesia. Semuanya politis. Semuanya demi kepentingan penokohan dan bukan untuk merangsang semangat patriotisme kerakyatan dan kebangsaan. Slogan kebangsaan dan perjuangan berbagai partai politik saat ini masih perlu gugatan; karena hanya disampaikan di atas mimbar-mimbar, di atas altar kekuasaan. ”Rakyat menderita, Politisi bermewah-mewahan”, itulah kondisi kita orang Indonesia, kata seorang sahabat. Kini, slogan nasionalisme menjadi semu. Ia tidak mengakar dan menyentuh ke perut alit; ya rakyat kecil yang menderita. Penderitaan kini hanya diobati dengan cara-cara ad hoc; ketika pemilu datang atau ketika masa-masa penokohan dan kampanye. Keberadaan rakyat adalah lebih baik tidak adanya. Karena jika rakyat ada bisa dipastikan mereka tetap menderita dan menjadi korban. Tapi aku banggga menjadi rakyat Indonesia. Walau menderita, Indonesia tetap bangsa dan negaraku. Kalaulah Indonesia ini hancur dan luluh lantak, aku tetaplah anak negeri ini yang mau berkorban dan bekerja banyak. Semoga siapapun yang membaca rintihan ini juga merasakan kondisi ini!

Tapi dalam kesedihanku, aku ingin menyapa : Oh pemimpinku, pernahkah kalian merenung dan berpikir panjang mengenai apa yang kalian perankan selama ini? Wahai rakyat Indonesia, pernahkah kalian mengevaluasi diri mengenai apa-apa yang kalian lakukan untuk negeri ini selama beberapa waktu yang telah berlalu? Apa impian kalian untuk Indonesia di masa depan? Wahai kalian mahasiswa dan pemuda Indonesia, apa yang kalian telah lakukan dan impikan untuk Indonesia? Tapi, mengapa Indonesia saat ini seperti Indonesia yang tidak diimpikan oleh bapak-bapak bangsa?

Wahai kalian yang peduli akan Indonesia, berkacalah dan bercerminlah! Indonesia kini adalah seperti aku dan kamu yang hanya diam ketika rakyat menderita; ketika Indonesia merintih kesakitan. Indonesia sakit; ya ia sakit karena hutan ditebang di mana-mana. Pasir pesisir pantai kini dijual tanpa harga. Budaya ke-Timur-an kini tak bersahaja lagi, karena ia kehilangan identitas khususnya; sopan, santun dan mendidik. Lalu siapa yang salah atas semua ini?

Yang salah adalah aku dan kamu yang sok pahlawan padahal keparat dan tak bekerja dalam alam kenyataan yang menyentuh rakyat yang butuh energi baru, yang butuh uluran advokasi. Karena kini yang lapar bukan perutnya saja tapi juga rasa kebangsaannya dimusnahkan oleh slogan palsu para elit yang bermuka tebal.

Wahai Indonesia dan rakyat Indonesia, maafkan aku dan siapapun penghuni negeri ini. Kami belum melakukan apa-apa untukmu; tapi percayalah bahwa setiap masa ada pahlawannya. Momentum kehadirannya ada di mana-mana dan kapan saja. Kumohon kepadamu Indonesia dan rakyat Indonesia turut berdo’a agar aku dan siapapun anak negeri ini menjadi penerus pahlawan di masa lalu yang kini telah tiada. Ini memang bukan tugas kecil, tapi kekuatan impian kata Ust. Musthofa Muhammad Thohan adalah kekuatan pemuda di masa lalu yang menyebabkan para sahabat menang dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Begitu juga ketika Hasan Al Banna membangun imperium kebenaran di seantero Mesir dan bahkan sampai ke seluruh penjuru dunia saat ini.

Lalu, bisakah nilai-nilai luhur itu menjadi identitas kita saat ini? Tidak ada yang tidak mungkin. Dalam konteks ini tidak ada pemutlakan; artinya apa yang mereka lakukan pada masa lalu, nilai-nilai kepahlawanan mereka kemungkinan besar juga akan bisa diperankan oleh kita-kita saat ini. Bukankah begitu? Jika kamu, dia tak mau biarkan aku mengatakan pada diriku : Akulah Pewaris mereka.

Selamat bertobat Pemimpin keparat, Selamat bersabar rakyat yang melarat, Selamat jalan Pahlawan Indonesia yang sudah lama menjadi mayat; Selamat datang Pahlawan Baru Indonesia. Allahu Akbar !

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 10, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: